JANGAN SEMBARANGAN

 Karya:  Baiq Shelvia Syara Pratiwi

    Hembusan angin malam seakan sedang berbicara pada makhluk bumi, dingin yang menyelimuti tubuh rasanya tidak ingin beranjak dari tempat  itu. Terlihat seorang anak manusia yang berada di teras rumahnya sedang bergelut dengan asiknya dunia, dengan satu benda terang yang dapat mengeluarkan berbagai gambar dan aktifitas lainnya keluaran zaman moderenisasi, biasanya sih orang menyebutnya handphone atau telepon pintar. Lutfi seorang pelajar kelas 2 sekolah menengah atas yang sebentar lagi akan naik kelas ke jenjang yang lebih tinggi sedang asik dengan gadgetnya, bukannya belajar malah  dia  asik bermain game. Lutfi saat ini tinggal bersama kedua orang tuanya di desa Kekait, kecamatan Gunungsari, kabupaten Lombok Barat. Di sekolah Lutfi terkenal sebagai anak yang pemalas dan suka berkata kotor serta tidak bisa dinasihati.

     Malam itu kedua orang tuanya baru saja pulang bekerja, mereka dari pagi telah memanen padi yang ada di ladang milik keluarga mereka. Melihat anaknya tengah asik bermain game, lantas ibu Lutfi bertanya pada anaknya “nak apa kau sudah belajar?”, Lutfi menjawab “ah nanti saja aku sedang asik bermain, sudahlah bu jangan ganggu Lutfi”. Karena mengetahui sifat anaknya, orang tua Lutfi mengabaikan anaknya yang tengah bermain. Lalu ibunya teringat bahwa Lutfi sudah pernah berkata jika besok pagi Lutfi dan teman-temannya akan study tour ke Masjid Bayan Beleq di Lombok Utara.  Setelah membersihkan badannya, ibu Lutfi langsung menyiapkan apa saja yang akan dibawa anaknya besok pagi. Setelah selesai menyiapkan segala sesuatunya, ibu Lutfi lalu beristirahat dari lelahnya bekerja di ladang seharian ini. Sedangkan Lutfi masih saja bergelut dengan gadgetnya hingga pukul 11 malam, merasa lelah bermain game diapun akhirnya masuk kamar dan mulai beristirahat.

***

    Kokok ayam membangunkan Lutfi dari mimpi indahnya, tersadar dari tidurnya Lutfi baru ingat bahwa dia lupa untuk sholat subuh. Dengan rasa kantuk yang masih melekat, Lutfi dengan gontai berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya lalu bersiap-siap untuk pergi sekolah, karena hari ini juga hari di mana Lutfi akan melakukan study tour. Setelah selesai sarapan, Lutfi lalu bergegas jalan menuju sekolah dengan diantar oleh ayahnya. Sesampainya di sekolah Lutfi langsung berkumpul di lapangan, karena ternyata ia terlambat beberapa menit dari waktu yang ditentukan oleh pihak  sekolah bagi siswa siswi yang  akan melakukan study tour. Saat guru sedang menjelaskan hal-hal apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama study tour, lagi-lagi Lutfi malah asik bermain dengan gadgetnya. Melihat hal tersebut, bapak guru mulai geram dengannya dan mulai menegurnya, “Lutfi, apa kamu tidak mendengar bapak? Berhentilah bermain-main!” ucap pak guru Lutfi. Akhirnya Lutfi berhenti memainkan gadgetnya dan mulai mendengarkan.

    Setelah beberapa menit diberi arahan, seluruh rombongan study tour akhirnya berangkat menuju Masjid Bayan Beleq. Di dalam bus Lutfi duduk di dekat Hasan, mereka sedikit berbincang tentang study tour ini. Tiba-tiba Lutfi bertanya “apa bagusnya sih Masjid Bayan Beleq ini? Membosankan sekali!”, Hasan tersenyum simpul lalu menjelaskannya pada Lutfi “wah Fi jangan salah ya, Masjid Bayan Beleq yang berada di desa Bayan, kecamatan Bayan, kabupaten Lombok Utara itu merupakan salah satu situs bersejarah di Indonesia loh. Masjid ini berusia kurang lebih 300 tahun dan diperkirakan dibangun pada abad ke-17. Masjid ini merupakan masjid tertua yang ada di Lombok, nah kecamatan Bayan merupakan gerbang masuknya Islam di pulau Lombok, jadi di kecaman itulah Islam pertama kali diperkenalkan lalu dibuatlah masjid tersebut”. Lutfi hanya mengangguk, seperti menandakan kalau dia sudah mengerti, lalu Hasan melanjutkan ceritanya “jadi dahulu ceritanya Sunan Pengging yaitu pengikut Sunan Kalijaga datang ke Lombok dan mulai menyebarkan agama Islam di Lombok, ia menikah dengan putri kerajaan Parwa yang menyebabkan kecewanya Raja Goa. Karena kekecewaan tersebut raja Goa menduduki Lombok pada tahun 1640 sehingga mengaharuskan Sunan Pengging pergi menuju Bayan yang menyebabkan beliau menyebarkan Agama Islam di Bayan”. Lutfi melongo mendengarkan penjelasan dari Hasan, lalu berkata “wah Hasan kau keren sekali, memangnya kau pernah  ke sana?”, Hasan menjawab “pernah sih sekali, aku juga mendapatkan informasi dari youtube dan media masa yang terpercaya. Sekarang kan serba gampang Fi, kita tidak harus ke tempatnya  langsung untuk mengetahui sejarahnya. Itulah gunanya kemajuan, jangan hanya gunakan untuk main game online saja yang Fi hahahaa”, ucap hasan sambal tertawa ringan. Lutfi hanya tersenyum karena merasa tersindi dengan perkataan Hasan. Hasan melanjutkan perkatannya “o iya Lutfi, nanti saat kita berada di sana jangan pernah bekata yang tidak-tidak ya apalagi berkata kotor, karena tempat itu sangat sakral dan juga itu tempat beribadah, paham kan?”. Lutfi tertawa dan berkata pada Hasan “hahaha kau masih saja percaya tentang mitos Hasan”, Hasan hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

    Setelah perjalanan cukup panjang, rombongan pun sampai di tempat tujuan. Setelah sampai, mereka beristirahat sejenak lalu mulai mengelilingi sekitaran Masjid di dampingi dengan salah satu masyarakat di sekitaran masjid tersebut. Di tengah perjalanan mengelilingi masjid, kaki Lutfi tersandung batu sehingga kakinya terasa sakit. Tanpa disadari dan spontanitas Lutfi mengeluarkan sumpah serapah terhadap batu tersebut, Lutfi tidak mendengarkan nasihat dari Hasan. Ketika sudah selesai meredakan sakit di kakinya, Lutfi mulai mencari teman-temanya yang lebih dulu  jalan meninggalkan Lutfi. Hampir 30 menit ia mencari rombongannya tetapi tidak ketemu juga. Lutfi bingung ke mana teman-temannya pergi, saat ini sudah 1 jam lebih dia mencari tetapi hasilnya nihil. Satu orangpun di desa itu tidak ia temui, merasa lelah  dia pun mulai beristirahat di pelataran masjid. Masjid yangberukuran  9x9 meter itu memiliki dinding yang terbuat dari anyaman bambu dengan lantai tanah masjid terbuat dari susunan batu kali. Tidak seperti masjid pada umumnya yang memiliki kubah, atap masjid kuno Bayan Beleq berbentuk tumpeng yang tersusun rapi berbahan bilah bambu. Dengan mata yang melihat takjub Lutfi berucap pelan “luar biasa bangunan ini, siapa sangka bangunan yang begitu lama dibuat masih bisa berdiri kokoh hingga saat ini”. Sambil mengamati bentuk bangunan masjid, tanpa terasa ia pun tertidur.

    Beberapa saat tertidur Lutfi akhirnya tersadar kalau ia sedang mencari rombongannya. Ia bangkit dari tempat istirahat tadi dan mulai mencari lagi teman-temannya. Hal yang sama pun terjadi, ia tidak menemukan rombongannya bahkan warga desa yang biasanya beraktifitas di sekitaran kompelek masjid pun tidak terlihat. Ia mulai takut, di mana orang-orang berada. Hari sudah sore, sampai saat ini pun ia tidak menemukan rombongannya, yang terlintas dipikirannya hanya bagaimana ia bisa keluar dari tempat ini dan bisa pulang kembali bertemu dengan ayah serta ibunya. Tiba-tiba saja muncul seorang kakek di depannya memakai sapuq atau ikat kepala khas orang Sasak, pakaian kakek tersebut seperti seorang alim ulama. Lutfi terkejut sekaligus senang karena setidaknya ia bertemu dengan manusia selain dia di tempat itu. Lutfi lalu bertanya pada kakek tersebut “apakah kakek orang  sini juga? Tolong bantu aku kek, aku tertinggal rombongan ketika sedang berkeliling melihat-lihat apa saja yang ada di komplek masjid ini. Saat aku hendak mencari teman-temanku, aku tidak menemukannya. Anehnya aku hanya berputar-putar di tempat  ini saja dan semua orang menghilang begitu saja”, ucapnya sedih. Kakek tersebut lalu tertawa tipis dan berkata “inilah balasan bagi orang yang tidak menghargai tempat sakral, tidak ingatkah kau tadi ketika tersandung batu, kau mengumpat batu yang  jelas-jelas tidak salah. Bisakah kau intropeksi diri? Jangan biasakan dirimu berkata kasar wahai anak manusia! Cobalah untuk berprilaku agar Allah SWT menyayangimu. Inilah balasan atas perbuatanmu tadi, bukankah temanmu sudah memperingatimu sejak sebelum kau sampai di tempat ini? Jadi tetaplah  kau dalam keaadaan ini sampai selamanya”, ucap kakek tersebut.

***

    Mendengar ucapan sang kakek tersebut, membuat Lutfi menangis dan meminta maaf atas kesalahan yang diperbuat. Ia benar-benar menyesal  atas apa yang telah dilakukannya itu. Lutfi berkata pada kakek tersebut “kakek aku benar-benar  menyesali perbuatanku, tolong bantu aku untuk kembali kepada teman-teman serta keluargaku. Aku berjanji, aku tidak akan menjadi anak nakal lagi, aku akan menuruti segala ucapan kedua orang tuaku, guruku, dan aku tidak akan berkata kotor lagi. Aku mohon kek maafkan aku, tolong bantu aku kek!”, ucap Lutfi sambil menangis dan berlutut di hadapan kakek. Kakek tersenyum melihat tingkah dan ucapan Lutfi, “baiklah, kau sudah terlihat menyesali segala perbuatanmu. Aku akan membantumu kembali pada teman-temanmu, tetapi kau harus berjanji untuk menjadi anak baik dan tidak berkata kotor lagi. Jika kau mengulanginya kau akan tau akibatnya, camkan itu! Sekarang kembalilah pada teman dan keluargamu, mereka sedang mencari-carimu!”, ucap kakek.  Lutfi lalu berterima kasih sambil menyatukan kedua tangannya di depan dada dan menghadapkan wajahnya ke tanah. Tiba-tiba terdengar suara Hasan yang  memanggil namanya, saat menengok ternyata benar yang memanggilnya adalah Hasan. Hasan bercerita kalau rombongan dari tadi mencari-cari dirinya, ketika ditanya oleh Hasan dia sudah ke mana, Lutfi hanya menjawab “aku dari tadi tertidur di dekat masjid ini hehe”. Tapi Hasan tidak lantas percaya begitu saja, tetapi Lutfi meyakinkan kalu dia dari tadi tidur di dekat masjid.

    Semenjak kejadian tersebut, Lutfi menjadi anak yang baik. Dia selalu menuruti nasihat dari orang tuanya, membantu orang tuanya di ladang, tidak bermain game lagi, rajin beribadah, dan tidak melawan guru. Kedua orang tuanya sangat Bahagia melihat perubahan yang terjadi pada anak mereka. Mereka sangat bersyukur, karena apa yang mereka harapkan untuk anak mereka menjadi lebih baik akhirnya terkabul. Guru-guru di sekolah Lutfi pun sangat senang karena sekarang Lutfi sudah menjadi anak yang rajin dan baik hatinya.

 

SELESAI


Komentar

  1. Masyaa Allah makin keren aja kakakku ini semangatss😍

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berkenalan Dengan Kemaliq Sasak

Kemaliq Ranget